Future trip :)

Future trip :)

Minggu, 20 Mei 2012

Dikala Hati Ingin Berlabuh

http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2010/10/romantic-wallpaper2029.jpg


Tiba-tiba terima sms dari seorang sahabat, isinya:
"assalamu'alaikum.. BEM *** akan mengadakan Seminar Pra Nikah tanggal 20 Mei 2012 di auditorium *** dengan pembicara Asma Nadia dan Ust. Salim A Fillah"

saya pun langsung bersemangat untuk ikutan *kebetulan juga tidak ada agenda* :)
segera langsung saya jawab "yuuuk, ikut" *tanpa pikir panjang*
berhubung saya ngefans banget sama ustad yang satu itu ^^

tapi balasan dari sahabat saya "pembicaranya oke banget, tapi temanyaaa "itu" loh.. yakin??"
*langsung membuka lagi sms pertama*
*shock*
sebelumnya saya sama sekali tidak memperhatikan temanya *kebiasaan*
tapi saya tetap membalas "kalau kamu ikut, aku mau ikut, ayooo ikut aja,hihi"
*buat belajar juga -batinku-

Beberapa hari sebelum hari H, sahabat saya memberitahu bahwa ternyata dia ada agenda wajib dan tidak bisa ikut..
dan saya pun berpikir kembali,
"ke sana sendiri dengan tema yang seperti itu, yakin kah???"
"gak, gak sendiri, tinggal ajak teman lain yang tertarik, dan bisa pergi kesana *gak usah malu*"
lagipula udah tingkat akhir ini *loh, apa hubungannya?! ;)
lalu saya segera tanya ke beberapa teman "sepermainan" dan alhamdulillah ada yang mau *asiiik*

Hari H
kesan pertama adalah ternyata banyak sekali peminatnya *iyalah, temanya aja menarik #ups*
langsung percaya diri, masuk dan duduk di posisi tengah *pengennya sih depan, tapi...*

pikiran saya pun langsung melayaang, menerawang, dan berimajinasi #lebay
pokoknya keluar dari ruangan ini aku harus memegang 3 hal:
1. Pengalaman mendengar langsung tausyiahnya Ust. Salim A Fillah dan Bunda Asma Nadia *kalau dari bunda sebelumnya pernah*
2. Memperoleh jawaban atas pertanyaan dalam diri yang selama ini dipendam tentang "munakahat" ^^
3. Menambah ilmu tentang bagaimana persiapan yang seharusnya :)

Sesi pertama disampaikan oleh Bunda Asma Nadia
Menurut bunda Asma Nadia, alur pernikahan itu :

Nikah -> happy -> problem -> diselesaikan -> sakinah
                                           -> tidak diselesaikan -> double problem

disetiap pernikahan pasti memiliki masalah yang membuat hubungan menjadi "warna-warni"
jika menghadapi suatu masalah, sebaiknya diselesaikan dengan cara yang baik bagi masing-masing pasangan
karena menurut saya pasti setiap pasangan memiliki cara sendiri yang lebih indah dan bijak :)
penyelesaian masalah pun sebaiknya menuju "keluarga yang sakinah" kembali..
namun, bila tidak segera diselesaikan, dapat dipastikan masalah itu akan semakin menumpuk
dan akan segera menuju "keterpurukan rumahtangga" *naudzubillah
maka, sepanjang hidup kita carilah berbagai macam cara
agar "sakinah" tidak hanya tercipta pada usia awal pernikahan tapi sepanjang hayat :)
*aamiin*

sebaiknya sebelum kita-kita pada mau menyelenggarakan ikatan yang sakral, halal dan barakah
kita harus mengerti dan memahami sekali, apa sih sebenarnya tujuan pernikahan?!
kalau saya petik dari "nasehat" Bunda Asma..
tujuan pernikahan adalah Sakinah
keluarga sakinah adalah keluarga yang pastinya didambakan oleh setiap umat muslim
keluarga yang memiliki kebahagiaan di dunia dan akhirat
keluarga yang memiliki ketenangan, ketentraman dan kedamaian *insyaAllah*

dan ternyata ikhtiar untuk menggapai keluarga "sakinah" bisa dimulai dari sekarang kok^^
mulai dari memilih pasangan yang dapat membantu untuk mencapai tujuan tersebut
bagaimana sih tahapan rencana menuju "ikatan suci"?
Kata Bunda Asma, ada tiga tahap yang dapat dilakukan, yaitu:
1. bagaimana cara memilih calon?
2. bagaimana karakter si calon?
3. bagaimana kita memprediksikan masa depan dengan si calon?
*silahkan dipikirkan teman-teman*

Ada beberapa cara mudah bagaimana cara mendeteksi kualitas si calon
*pasti kalo masalah ini pada pengen tahu, soalnya sebelum mengikuti seminar, saya juga penasaran,hihi*

pertama, Hadapkan suatu masalah pada si calon dan kita lihat bagaimana cara dia mengatasi masalah tersebut?! *heumm
misalkan,, pada hari-hari menjelang pernikahan, kamu *yang kebetulan masih tingkat akhir* kehilangan draft skripsi mu yang memang belum kamu backup.. *gawaaat banget yaa*
respon si calon 1: Oo.. gitu?! ya sudah, mau bagaimana lagi?! kamu sih ceroboh..
respon si calon 2: Astaghfirullah.. kasihan sekali kamu. sabar yaa.. *smile*
respon si calon 3: Astaghfirullah.. lain kali kalau ada yang penting, sebaiknya di backup dulu.. atau kamu kirim ke aku biar ada backup-annya. nanti biar aku bantu menyelesaikannya.
Hayoo.. kamu milih yang mana?? saya sih lebih memilih pasangan yang empati dan solutif :)

kedua, Coba mulai sekarang kamu list pertanyaan berkualitas mulai dari hal sepele sampai genting. ini cara yang paling mudah untuk tahu cara berpikir si calon dan pemahamannya tentang apapun terutama Islam dan keluarga.Pertanyaan ini bisa menyangkut intelektual, spiritual, empati, bahkan sampai konsep parenting (kalau yang satu ini, jangan terlewatkan kata bunda Asma ^^)

nah,, ada juga hal-hal yang perlu ditelisik dari si calon:
1. latar belakang
2. kebiasaan
3. gaya hidup
4. utamakan keshalehannya
5. jangan menikah hanya karena jatuh cinta

sekarang kita masuk ke Sesi kedua,
sesi ini diisi oleh Ustadz yang saya sendiri pun kagum #ups
Ustadz Salim A Fillah ^^

Menurut Ust. Salim, ada lima hal yang sebaiknya kita persiapkan untuk menuju "ikatan suci",
pertama, Spiritual
"Saling mengenal, maka akan mudah mencapai kesepakatan
sebaliknya saling tidak mengenal, maka akan mudah memunculkan perselisihan"
maka, sebaiknya kita sebagai umat muslim sebelum memprioritaskan untuk persiapan pernikahan
alangkah indahnya, kita fokus terlebih dahulu untuk membangun hubungan yang indah dengan Sang Khalik, Allah swt.
Jodoh itu bagian dari rizki dan rizki telah ditetapkan saat ruh mulai ditiupkan
jadi semua keinginan kita itu sebenarnya yaa tergantung prasangka kita kepada Allah -Aisyah ra-
kedua, Ilmu
ketiga, Fisik
keempat, Harta
kelima, Sosial

Masalahnya, kita seharusnya bukan mencari pasangan ideal, tetapi pasangan yang tepat
pasangan yang dapat pahami dan memahami kita
pasangan yang dapat dibimbing dan membimbing kita
pasangan yang dapat dihargai dan menghargai kita

Kata Ustadz Salim, sangatlah beda cinta sesama muslim yang sejenis dan lawan jenis.
bagi cinta sesama muslim yang sejenis, masih berlaku pepatah berikut:
Cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri kamu sendiri
namun bagi cinta sesama muslim yang berlawanan jenis
TENTU TIDAK BERLAKU PEPATAH ITU
mengapa???

hal ini lebih disebabkan oleh cara empati dan cara respon yang berbeda antara akhwat dan ikhwan
contoh konkritnya..
seorang akhwat cenderung saat ada masalah, langsung bercerita singkat *biar lega* sambil menitikkan air mata, setelah itu baru mencari teman yang dapat dipercaya sebagai teman cerita.
*sebenarnya gak semua akhwat suka menangis #jeritanhatiyangsulit menangis*

sebaliknya, seorang ikhwan saat ada masalah cenderung lebih diam, menyendiri, dan jika ditanya, langsung menjawab "saya tidak apa-apa", setelah masalahnya selesai, baru deh si ikhwan bilang "masalahnya sudah selesai saya atasi" *untuk mempertegas kepemimpinannya*

benarkah?? hanya pribadi kita yang bisa menjawab.
dengan demikian, masing-masing pasangan harus memahami cara pasangannya *lawan jenis pastinya^^*

balik lagi ke topik awal "Sakinah"
kalau versi Ustadz Salim, sakinah itu bisa dicapai saat;
1. terjaga kesucian diri karena kehadirannya
2. membangun ikatan hati dengan pendamping
3. punya kecenderungan pada pedamping hidup
4. kehadiran pendamping memunculkan ketentraman aktif sehingga hidup lebih dinamis
heumm.. mulai rancanglah strategi bagaimana menggapai sakinah dengan pendampingmu ^^

Sesi ketiga, berdiskusi dengan Bunda dan Ustadz ^^
1. bagaimana dengan poligami? kan menurut survei di jakarta, perbandingan akhwat dan ikhwan 1:7?
    bunda Asma: setahu saya perbandingan itu hanya berlaku untuk akhwat usia di bawah 15 tahun dan di    atas 65 tahun. jadi kalau untuk akhwat usia produktif perbandingannya hampir sama. kalau anda ingin berpoligami dengan sisanya (usia <15 tahun atau > 65 tahun) silahkan *smile*

2. bagaimana kalau seorang akhwat sudah ada yang mengkhitbah, tapi dia belum siap? dan sebaliknya, bagaimana untuk akhwat yang sudah siap, tapi belum ada yang mengkhitbah?
bunda Asma: untuk pertanyaan pertama, sebenarnya persiapan itu perlu diikhtiarkan misal dengan mengikuti beberapa seminar, menerima tausyiah, membaca buku dll. untuk yang kedua, sebenarnya bisa saja akhwat mengajukan diri duluan *seperti khadijah, istri Rasulullah saw* tetapi pertanyaan utamanya adalah apakah ada ikhwan yang pantas untuk dilamar sekualitas Rasulullah saw??

3. bagaimana mengomunikasikan impian akhwat yang sudah ada sebelum menikah dengan calon suaminya?
sebaiknya impian tersebuut diajukan saja, lalu didiskusikan. dan alangkah lebih baiknya seorang akhwat mencari usaha yang tetap membangun eksistensi diri tanpa meninggalkan keluarganya seperti menulis.

4. bagaimana pandangan Ustadz tentang ta'aruf?
Ustadz Salim: sebenarnya istilah ta'aruf itu tidak ada pada zaman Rasulullah saw. karena saat itu mereka berpegang teguh dengan istilah berikut kalau ingin tahu mengenai si A, lihat saja ayahnya
seperti, kalau ingin tahu mengenai Aisyah ra, lihat saja ayahnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Istilah ta'aruf ini baru ada sekarang, karena anak-anak sekarang dibentuk bukan melalui keluarga saja tetapi lingkungannya, jadi tidak representative.
dan ta'aruf (berkenalan) itu tidak hanya ada menjelang pernikahan saja tapi selama hidup ^^

5. bagaimana dengan pernikahan dini? dan bila terpentok dengan ijin orang tua?
Ustadz Salim : nikah dini >> banyak masalah!!! 
pernyataan diatas itu yaa tergantung..
umur bukan lah ukuran kedewasaan,
ukuran yang sebenarnya adalah proses yang telah dialami ^^ 
dan bila terpentok masalah ijin orangtua yang masih belum percaya akan tanggungjawab anaknya,
maka, perlihatkanlah kedewasaan kalian dengan sebelumnya mengetahui standar kedewasaan yang telah ditetapkan oleh orangtuamu masing-masing..
bagaimana orangtuamu mau percaya kamu bisa menjadi seorang suami bagi istrimu dan ayah dari anak-anakmu kalau setiap menelpon mereka, kamu masih mengeluh tentang agenda padatmu, pratikummu,dll..
*coba renungi*
dan ingatkanlah orangtuamu, bahwa mereka sebenarnya berkewajiban untuk mencarikan calon yang sholeh/sholehah bagi anak-anak mereka *smile*

moga tulisan ini bermanfaat bagi kalian, kamu, saya, dan mereka..
moga  dapat diambil hikmah dari kata demi kata nya
dan moga jalan kita dipermudah untuk segera menegakkan sebagian dari agama-Nya
*aamiin*

"fokuskan diri pada Sang Pemilik, InsyaAllah "persiapan" menuju sakinah akan lebih matang dan barakah bersama pasangan yang tepat"

3 komentar:

Sakincee mengatakan...

aaaaaaiiiihh, setelah baca, belum siap dehh gw ra hahahahahaha

zahra mengatakan...

dulu sempat mikir, punya daftar pertanyaan yang cukup banyak untuk si calon.. tapi.. hehehe..

suka poin yang ini:
"Masalahnya, kita seharusnya bukan mencari pasangan ideal, tetapi pasangan yang tepat
pasangan yang dapat pahami dan memahami kita
pasangan yang dapat dibimbing dan membimbing kita
pasangan yang dapat dihargai dan menghargai kita"

Tidak ada manusia yang sempurna, kalau mau cari yang sempurna, ya jangan cari manusia *smile*

Semoga kita semua bisa menggenapkan dien di saat yang tepat ya.. *smile*

fairuuz zahraa mengatakan...

sakincee: ayoo ikhtiar dulu dalam persiapan ^^

zahra: tapi kenapa hayoo?!^^
insyaAllah, walaupun ilmu belum cukup sempurna tapi bila sudah bisa menjaga akhlak dan menghargai orang lain,
akan menjadi nilai tambah sesudahnya :)
aamiin :)